Nama : Andra Fajar Papua
NIM : 20220042
Kelas : A1 PBI
Subjek : UTS
Pudarnya Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Benar Di Kalangan Remaja
Di
zaman modern seperti ini, generasi Milenial seolah – olah mendapatkan
kosa kata baru yang datangnya entah muncul dari mana. Penggunaan bahasa Indonesia
yang benar kini perlahan memudar seiring dengan masuknya budaya asing ke negara
Indonesia. Tentu saja masuknya budaya asing ke Indonesia sangat mempengaruhi
kepada cara berbicara bangsa Indonesia, bukan hanya cara berpenampilan dan
berperilaku saja.
Mari
kita lihat lebih dalam mengapa penggunaan bahasa Indonesia yang benar semakin
hari kian memudar. Ternyata pengaruh terbesar dari memudarnya bahasa Indonesia
yang benar di kalangan remaja adalah panutan mereka. Kepada siapa mereka
menganut, siapa yang mereka jadi kan idola. Itulah salah satu alasan kenapa
penggunaan bahasa Indonesia yang benar kian memudar.
Seperti
yang kita ketahui dan dapat kita ambil sebagai contoh ialah cara berbicara
generasi Milenial. Sebagai contoh kata “Sabi” Plesetan dari kata bisa, “Sabeb”
Plesetan dari kata bebas, “Boljug” Plesetan dari kata boleh juga, “Sotetot”
Plesetan dari sok tahu, “Mantul” Plesetan dari mantap betul, “Caper” Plesetan
dari cari perhatian, dan masih banyak lagi. Yang mana kita bisa asumsikan itu
bukan bahasa Indonesia yang benar.
Penggunaan
bahasa yang sudah disebutkan tidak sembarangan orang dapat memahami kata
tersebut, mungkin hanya beberapa saja, atau hanya satu generasi saja yaitu
generasi Milenial. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa generasi Zoomer
dan generasi Boomer juga dapat memahami bahasa tersebut yang sudah
di cap gaul oleh generasi Milenial. Semua dapat berubah seiring
berjalannya waktu.
Muncul
pertanyaan, apakah tidak ada tindakan lebih lanjut terhadap penggunaan bahasa
yang tidak benar? Tindakan lebih lanjut terhadap penggunaan bahasa tidak benar
menurut saya hanya akan membuang waktu saja. Mengapa? Karena bahasa Indonesia
menurut opini saya adalah bahasa yang kaya akan sastra, sementara sastra itu
dipergunakan untuk sesuatu yang estetik, tidak terpaku, dan bebas.
Jadi,
biarkan saja mereka menikmati apa yang sudah tersedia di zaman mereka, generasi
sebelumnya seharusnya tidak terlalu ikut campur terhadap generasi sekarang.
Karena tidak bisa dipungkiri bahwa pergaulan akan berubah seiring berjalannya
waktu. Saya yakin pada generasi selanjutnya juga akan ada suatu bahasa baru
yang mungkin hanya generasi selanjutnya saja yang akan mengerti.

anjay
ReplyDeleteMakasih qaqa
DeleteBermanfaat sekali mas, terimakasih🙏🏼
ReplyDelete